Bahagiamu, Bahagiaku


Ditulis dalam keadaan gugup #eakkkk

Postingan kali ini untuk mengikuti ajakan dua bloger sejoli Om Slamet dan Mbak Rifa mengenai memaknai,  mengukur, mendefinisikan, dan mengeja kembali kata “BAHAGIA”. Pokoke ngonolah kurang lebihnya.

Tiba-tiba mumet padahal belum nulis apa-apa.

Mulai dari mana?

Bahagia itu apa sih??? Aku mikir ini sampe lupa dua permen loli milkita sama dengan berapa gelas susu?

Jadi, dua permen loli milkita setara dengan berapa gelas susu? *mikir keras.

Emmm….

Baca lebih lanjut

[CURHAT] Aku Suka yang Intim


Peringatan : masih postingan curhatan yang isinya 1200 kata dan masih tetep ngalor ngidul ngetan ngulon. Semoga kalian tabah dengan makhluk macam aku. *uhuk.

Ijinkan aku curhat dalam keadaan kangen yang sekangen-kangennya… Sampe denger suara ayam sama kodok aja bikin aku kangen sejadi-jadinya. Eh pembukaan macam apa ini?

Mari dimulai. Baca lebih lanjut

Menerima Sangsi


Menunggu

“Aku akan menunggumu seperti menanti pagi”.

“Untuk apa ditunggu? Pagi pasti datang.” Jawabmu sambil setengah mengejek.

“Itu. Tepat, karena pasti datang.”

Masih jelas aku ingat. Masih terlalu jelas suara-suaramu seperti diputar-putar ulang secara otomatis di dalam kepala. Aku masih merindukanmu, bahkan doa belum mampu meniadakan kegetiran. Air mata terlampau terbatas menerjemahkan kenanganku bersamamu. Baca lebih lanjut